
Manado, nusantarainfo.net — Suasana pagi di Aula Toar Lumimuut, Kantor Wali Kota Manado, Selasa (02/09/25) tampak berbeda. Kursi-kursi tertata rapi, dan para peserta mengenakan seragam dengan wajah penuh antusias. Hari itu bukan sekadar upacara, melainkan awal dari sebuah komitmen besar: lahirnya Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR) 2025.
Wali Kota Manado, Andrei Angouw, hadir langsung memimpin prosesi pengukuhan. Didampingi Sekda dr. Steaven Dandel, M.Ph., Asisten I Julises Oechlers, S.H., serta Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Manado, Jimmy Charles Rotinsulu, S.E., M.Si., Wali Kota menegaskan bahwa REDKAR bukan hanya sebuah program, tetapi gerakan bersama untuk menjaga keselamatan warga.
Sebanyak 40 orang relawan dari 10 kecamatan, 31 kelurahan, dan 40 lingkungan resmi dikukuhkan. Mereka adalah representasi masyarakat yang siap berada di garda terdepan ketika api melalap pemukiman atau bencana kebakaran mengancam.
Rangkaian acara dimulai dengan khidmat: lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema, disusul Mars Pemadam Kebakaran, lalu doa pembukaan. Namun momen paling ditunggu tentu saat Wali Kota menyematkan tanda peserta kepada perwakilan relawan. Tepuk tangan mengiringi prosesi itu, seakan meneguhkan semangat baru bagi Kota Manado.
Dalam sambutannya, Andrei Angouw menyampaikan apresiasi kepada para relawan. Baginya, REDKAR bukan sekadar tambahan personel, melainkan mata dan telinga masyarakat dalam menghadapi risiko kebakaran.
“Saya berharap semua ketua lingkungan atau perwakilannya bisa menjadi relawan Damkar. Dengan begitu, kita bisa lebih cepat dan tanggap menghadapi kejadian di sekitar kita,” ujar Wali Kota dengan penuh semangat.
Ia menambahkan, relawan nantinya akan dibekali pelatihan agar tidak hanya mampu menangani situasi darurat, tetapi juga menjadi agen edukasi di lingkungannya. Menurutnya, kawasan padat dengan rumah berdempetan adalah titik rawan yang harus diantisipasi secara serius.
“Antisipasi kebakaran itu penting. Warga juga perlu tahu jalur evakuasi, terutama yang tinggal di gang-gang sempit. Dengan adanya relawan ini, saya yakin Manado akan lebih siap dan aman,” tegasnya.
Mata beberapa peserta terlihat berbinar. Bagi mereka, pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan tanggung jawab. Mereka sadar, ketika sirene berbunyi dan api membara, kehadiran relawan bisa menjadi perbedaan antara selamat atau celaka.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama, mengabadikan momen lahirnya REDKAR 2025. Senyum para relawan berpadu dengan rasa bangga Wali Kota dan jajaran pejabat. Sebuah simbol bahwa keselamatan warga adalah kerja kolektif, bukan hanya tugas pemerintah.
Dengan hadirnya REDKAR 2025, Manado menegaskan langkahnya menuju kota yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan kebakaran.
Relawan baru, semangat baru — itulah harapan yang kini tumbuh di jantung Kota Manado. (Rik)







