
Foto dokumentasi BNPB
Minahasa,nusantarainfo.net — Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendorong upaya sistematis dan berkelanjutan guna menanggulangi bencana banjir yang melanda Kabupaten Minahasa. Salah satu opsi utama yang dibahas dalam rapat koordinasi adalah relokasi dan rehabilitasi rumah warga terdampak dalam bentuk pembangunan rumah panggung.
Langkah tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Banjir Kabupaten Minahasa yang dipimpin langsung oleh Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M. pada Kamis (12/6). Rapat digelar di Kantor Bupati Minahasa dan dihadiri oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Bupati Minahasa, Wakil Bupati Minahasa, serta unsur Forkopimda.
Dalam sambutannya, Kepala BNPB menyampaikan apresiasi atas langkah cepat pemerintah daerah dalam fase tanggap darurat banjir. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dasar bagi ribuan warga terdampak merupakan fondasi penting sebelum masuk ke tahapan berikutnya.
Tiga Opsi Rehabilitasi Rumah Warga
Pada rapat tersebut, Suharyanto memaparkan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang. Untuk jangka menengah, terdapat tiga opsi yang direkomendasikan kepada masyarakat terdampak, yaitu:
- Relokasi terpusat ke wilayah yang dinilai lebih aman,
- Relokasi mandiri yang difasilitasi pemerintah,
- Renovasi rumah tapak menjadi rumah panggung, guna mengantisipasi potensi banjir kembali.
Meski demikian, Suharyanto menegaskan bahwa keputusan akhir akan sangat bergantung pada aspirasi dan pilihan warga terdampak. Pemerintah akan menghormati kehendak masyarakat, asalkan solusi yang dipilih tetap memperhatikan aspek keamanan dan keberlanjutan.
Revitalisasi Danau dan Penanganan Sampah untuk Jangka Panjang
Untuk solusi jangka panjang, BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait telah menyusun rencana revitalisasi Danau Tondano yang menjadi sumber utama banjir. Program ini akan melibatkan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I serta PLN, disertai dengan penguatan pengelolaan sampah oleh pemerintah kabupaten.
“Kalau langkah jangka pendek, menengah, dan panjang ini berjalan sinergis dan konsisten, insyaAllah banjir seperti ini tidak akan terulang,” ungkap Suharyanto optimistis.
Bantuan Logistik dan Tinjauan Lapangan
Dalam kesempatan tersebut, BNPB juga menyerahkan bantuan logistik dan peralatan secara simbolis kepada BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kabupaten Minahasa. Bantuan tersebut meliputi:
- 5 unit perahu karet beserta mesin,
- 200 lembar selimut dan 200 matras,
- 300 paket sembako dan 100 paket susu bayi,
- 2 unit perahu katamaran, dan
- 1 unit truk serbaguna.
Selain itu, BNPB juga telah mendistribusikan bantuan awal berupa 20 unit tenda keluarga, 2 unit tenda pengungsi, dan 2 unit toilet portable.
Usai rapat, Kepala BNPB meninjau langsung kondisi rumah warga yang terdampak banjir di Kelurahan Ro’ong, Kecamatan Tondano Barat. Dalam dialog bersama warga, ia menegaskan bahwa kehadiran pemerintah bukan hanya dalam bentuk bantuan fisik, tetapi juga dalam komitmen jangka panjang untuk mencari solusi menyeluruh atas bencana ini.
Dampak Banjir dan Penyebabnya
Banjir besar yang melanda Kabupaten Minahasa terjadi akibat meluapnya air Danau Tondano menyusul hujan deras berkepanjangan dari 21 April hingga 1 Mei 2025. Berdasarkan data BNPB, bencana ini berdampak pada:
- 2.757 Kepala Keluarga (KK) atau 7.330 jiwa,
- 1.313 jiwa di antaranya mengungsi,
- 1.889 unit rumah terdampak,
- serta 4 unit sekolah turut terkena dampak.
Banjir ini tercatat sebagai yang terparah dalam lima tahun terakhir di wilayah tersebut. Selain curah hujan ekstrem, faktor lain yang memperparah kondisi antara lain pendangkalan Daerah Aliran Sungai (DAS), penumpukan sampah, serta kerusakan pada pintu air.
Tantangan Hidrometeorologi di Sulawesi Utara
Dalam periode lima tahun terakhir, Sulawesi Utara mencatat 149 kejadian bencana hidrometeorologi basah, yang terdiri dari:
- 94 kasus banjir,
- 27 cuaca ekstrem,
- 15 tanah longsor, dan
- 13 kejadian gelombang pasang atau abrasi.
Danau Tondano sendiri, sebagai danau terluas di Sulawesi Utara dengan luas sekitar 4.000 hektare, berperan vital dalam ekosistem wilayah ini. Dikelilingi oleh Gunung Lembean, Kaweng, Masarang, dan Bukit Tampusu, danau ini menjadi prioritas dalam rencana penataan ulang sistem tata air Minahasa.(**)
(Sumber: https://www.facebook.com/InfoBencanaBNPB)




