
TOMOHON, nusantarainfo.net – Memasuki usia ke-92 tahun pada 2026, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) tengah berada dalam momentum krusial untuk melakukan pembenahan internal.
Menindaklanjuti keputusan Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) ke-38 tahun 2025 yang dilaksanakan di Auditorium Bukit Inspirasi (ABI) Tomohon, muncul pemikiran mendalam terkati revisi Tata Gereja 2021 guna menjaga kemurnian sitem pelayanan gereja.
Pdt. Roeroe, Junior, dalam pokok pikirannya bertajuk “Dispotatio Bagian 1” mengusulkan perubahan mendasar pada salah satu perangkat pelayanan yang ada di aras Jemaat dan Wilayah Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) dan Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) untuk menghilangkan kesan dikotomi dan hierarki yang selama ini terjadi.
dari “Badan” menjadi “Majelis.
poin utama yang disoroti adalah penggunaan nomenklatur Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) dan Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW).
Menurut Pdt. Roeroe, Junior, istiliah “Badan” secara praktis telah menciptakan persepsi bahwa lembaga ini adalah entitas otonom yang terpisah dari Majelis Jemaat. “Muncul kesan pemisahan fungsi, seolah-olah BPMJ berdiri sendiri di luar Majelis Jemaat”, dan Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) seolah- mengkoordinasikan program-program Sinodal. ungkapnya.
Pdt. Roeroe Junior, dari segi masa kerja pelayanan dan golongan, ia menjadi mentor bagi pendeta yang lain yang ada di jemaat.
Hal serupa juga diusulkan untuk tingkat wilayah, dimana Badan Pekerja Majelis Wilayah (BPMW) disarankankan berganti menjadi Majelis Pekerja Wilayah (MPW) dengan sistem rotasi moderator yang melibatkan pendeta atau unsur Bipra atau juga Lansia di Majelis Pekerja Wilayah secara bergilir.
Konsistensi Presbiterial Sinodal
Esensi dari seluruh usulah perubahan ini adalah untuk mengedepankan prinsip kesederajatan pelayan sebagai rekan sekerja di hadapan Tuhan Yesus sebagai pemilik gereja, dan pemimpin utama gereja. Dalam usulan tersebut, representasi jemaat bukan lagi berada pada segelintir orang di MPHJ, melainkan pada Majelis Jemaat secara utuh. Hal ini diharapkan dapat menghapus kesan superioritas antar pelayan dan mengembalikan gereja pada hakikat aslinya sesuai terang Firman Allah.
Perubahan ini diharapkan menjadi bahan kajian mendalam bagi seluruh warga Gereja Masehi Injili di Minahasa untuk dibicarakan bersama di Sidang Majelis sinode Revisi Tata Gereja yang akan dilaksanakan di tahun ini. Untuk Menuju GMIM di Era Baru.




