
Tomohon, nusantarainfo.net – Pemadaman listrik yang melanda sebagian besar wilayah Kota Tomohon pada Kamis (09/10/2025) selama hampir lima jam menimbulkan keresahan di masyarakat. Namun, upaya media untuk mendapatkan klarifikasi langsung dari pimpinan PLN Tomohon berakhir tanpa jawaban.
Berdasarkan penelusuran NusantaraInfo.net, pesan konfirmasi yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp kepada pimpinan ULP PLN Tomohon terlihat telah dibaca, namun tidak direspons hingga berita ini diterbitkan.
Sikap tertutup tersebut menimbulkan dugaan bahwa pimpinan PLN Tomohon enggan berkomunikasi dengan media, padahal publik berhak memperoleh penjelasan atas gangguan layanan listrik yang berdampak luas terhadap aktivitas warga.
“Kami hanya ingin tahu penyebabnya dan kapan listrik menyala lagi. Tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba padam selama berjam-jam,” ujar Denny, warga Kelurahan Kolongan, kepada NusantaraInfo.net.
Menariknya, informasi mengenai penyebab padamnya listrik justru diperoleh bukan dari kantor ULP PLN Tomohon, melainkan melalui layanan pengaduan PLN 123. Dalam keterangan yang diterima pihak media melalui petugas Contact Center PLN Tomohon–Tondano, disebutkan bahwa gangguan terjadi akibat kabel SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) yang kandas di salah satu bangunan yang sedang dalam proses pengerjaan di Kelurahan Matani I, Kecamatan Tomohon Tengah.
Gangguan tersebut menyebabkan pemadaman meluas ke beberapa wilayah lain di Kota Tomohon, sebelum akhirnya dilakukan perbaikan jaringan oleh petugas lapangan PLN.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala ULP PLN Tomohon belum memberikan tanggapan resmi baik melalui pesan singkat, panggilan telepon, maupun klarifikasi publik.
Sikap bungkam ini dinilai mencederai prinsip keterbukaan informasi publik, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, yang mewajibkan badan penyelenggara layanan publik memberikan informasi secara cepat, akurat, dan transparan.
Sementara itu, sejumlah warga berharap PLN Tomohon dapat lebih terbuka terhadap media, mengingat media berperan sebagai jembatan komunikasi antara lembaga publik dan masyarakat.
“Kalau informasi disampaikan terbuka, warga juga bisa maklum kalau itu gangguan teknis. Tapi kalau diam saja, orang pasti curiga,” ungkap Lina, salah satu warga yang terdampak pemadaman listrik.
Kasus ini menyoroti pentingnya komunikasi publik di tubuh PLN daerah, khususnya dalam menghadapi situasi darurat seperti pemadaman listrik. Ketika media diabaikan, kepercayaan publik terhadap lembaga penyedia layanan vital seperti PLN pun ikut dipertaruhkan.
NusantaraInfo.net akan terus menelusuri perkembangan informasi ini, termasuk meminta klarifikasi resmi dari PLN Wilayah Suluttenggo, guna memastikan langkah perbaikan dan evaluasi atas pelayanan komunikasi publik di lingkungan PLN Tomohon. (vdp)





