
Nusantarainfo.net || Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin berkembang.
Salah satu nama yang menyatakan kesiapan maju adalah Hery Haryanto Azumi atau yang akrab disapa Gus Hery.
Gus Hery membawa gagasan kepemimpinan yang menempatkan kedekatan dengan masyarakat dan kemaslahatan bangsa sebagai bagian penting dari arah perjuangannya.
Gagasan tersebut menekankan pentingnya NU hadir bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu mendengar persoalan masyarakat dan ikut memberikan jalan keluar.
Dalam visi yang ditawarkan, Gus Hery menempatkan kedekatan dengan rakyat sebagai salah satu prinsip utama. Ia ingin aspirasi warga menjadi bagian penting dalam pengambilan kebijakan dan gerak organisasi.
Selain itu, ia menekankan pentingnya merawat persatuan di tengah masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang sosial, budaya, dan keagamaan yang beragam.
Empat Fokus Perjuangan
Gagasan Gus Hery dapat dirangkum dalam empat fokus utama.
Pertama, memperkuat hubungan NU dengan masyarakat melalui pendekatan yang lebih terbuka, mendengar aspirasi warga, serta merespons kebutuhan mereka.
Kedua, memperluas semangat persatuan dengan merangkul berbagai kelompok masyarakat. NU diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai elemen bangsa.
Ketiga, memperkuat toleransi dan hubungan antarumat beragama. Menurut gagasan yang ditawarkan, persatuan menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong kemajuan bangsa.
Keempat, meningkatkan kontribusi NU terhadap pembangunan Indonesia, termasuk melalui bidang sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan penguatan kehidupan masyarakat.
Gus Hery juga melihat pentingnya kerja sama dengan berbagai institusi negara dan elemen masyarakat dalam menciptakan kondisi sosial yang aman serta mendukung kesejahteraan rakyat.
Bagian dari Dinamika Muktamar ke-35
Hery Haryanto Azumi sebelumnya telah menyatakan kesiapannya maju dalam bursa Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Ia merupakan mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2005–2007 dan pernah menjabat sebagai salah satu pengurus di PBNU.
Sejumlah tokoh NU juga telah muncul dalam bursa kepemimpinan PBNU. Di antaranya Ketua Umum PBNU saat ini KH Yahya Cholil Staquf, KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Ghaffar Rozin, KH Muhammad Yusuf Chudlori, KH Abdussalam Shohib, KH Abdul Hakim Mahfudz, KH Nasaruddin Umar, serta Hery Haryanto Azumi.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Forum tersebut akan menjadi momentum penting bagi NU dalam menentukan kepemimpinan sekaligus arah organisasi untuk periode berikutnya.
Dalam konteks persaingan tersebut, gagasan “dekat dengan rakyat” yang dibawa Gus Hery menjadi salah satu tawaran kepemimpinan yang kini ikut diperbincangkan.
Namun, dukungan politik organisasi dan konfigurasi kandidat masih dapat berubah hingga tahapan resmi Muktamar berlangsung.
Dengan demikian, pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU bukan sekadar persoalan figur, tetapi juga menyangkut gagasan tentang bagaimana NU menjalankan perannya di tengah perubahan sosial dan tantangan bangsa pada abad kedua organisasi.







